Rosa’il Ikhwan Al-Shofa: Sekilas tentang Penulis, Isi, dan Pengaruhnya

Salah satu karya enslikopedik filsafat Islam yang penting[1] ditulis di sekitar abad ke sepuluh (840 – 980 M)[2], dikenal dengan nama Rosa’il Ikhwan al-Sofa (رسائل إخوان الصفا). Seperti ditunjukan oleh namanya, karya tersebut merupakan kumpulan tulisan dari suatu kelompok yang bernama Ikhwan al-Sofa, lengkapnya: Ikhwan al-Sofa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-‘Adl wa Abna al-Hamd (Persaudaraan Kesucian, Persahabatan Kejujuran, Penganut Keadilan, dan Putera Keterpujian)[3].

Melalui Rosa’il Ikhwan al-Sofa, kita akan ditunjukan pada hidupnya ide-ide Pythagoras (sekitar 500 SM) di masa itu di dunia Islam: tafsir filosofis-metafisis atas angka-angka. Selain itu, melalui penelisikan atas pemilik Rosa’il, kita akan diperkenalkan pada suatu kelompok rahasia dengan komitmen ideologi yang “misterius”, oposisi politik status quo, pecinta pengetahuan, penganut “esoterisme” dalam beragama, dan respon sangat keras dari lawan-lawannya. Hal itu menjadikan Ikhwan al-Sofa dan Rosa’il-nya menjadi sesuatu yang menarik—selain penting, bagi kita.

 

Siapakah Ikhwan al-Sofa?

Buku-buku sejarah filsafat Islam[4] menyebutkan bahwa Ikhwan al-Sofa adalah suatu kelompok cendikiawan yang merahasiakan identitas individu-individunya. Nama kelompok ini mulai muncul sejak keluarga Buwaih dari golongan Syi’ah menjadi penguasa de facto di Baghdad sebagai pusat kekhilafahan ‘Abbasiyyah, sejak tahun 946 M (334 H). Keanggotaan organisasi mereka dibagi menjadi empat level: pertama; Ikhwan Abror Ruhama untuk anggota berumur 15-30 tahun; kedua, Ikhwan Akhyar Fudhola’ untuk yang berumur 30-40 tahun; ketiga, Ikhwan Fudhola’ Kirom untuk yang berumur 40-50 tahun; dan keempat, Kamal untuk yang sudah mencapai umur 50 tahun. Mereka juga memiliki lodge, tempat pertemuan rutin mereka sekali dalam dua belas hari.

Omar A. Farrukh (1963) mengatakan bahwa sebagian nama anggota Ikhwan al-Sofa ada yang sampai pada kita melalui satu sumber, yaitu Abu Hayyan al-Tauhidi (w. sekitar 400 H/1009 M) yang merupakan teman  mereka.[5] Ketika Abu Hayyan ditanya tentang anggota Ikhwan al-Sofa di sekitar tahun 373 H/983 M, ia menyebutkan lima di antara mereka: Abu Sulaiman al-Busti (dikenal dengan julukan al-Muqoddasi), Abu l-Hasan al-Zanjani, Abu Ahmad al-Nahrojuri (alias al-Mihrojani), al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah.[6]

Para peneliti berbeda pendapat tentang komitmen ideologi sebenarnya dari kelompok ini. Ada yang menyebut Mu’tazilah, independen namun dekat dengan Isma’iliyyah, dan ada juga yang berpandangan bahwa mereka benar-benar pengikut mazhab Isma’iliyyah Bathiniyyah[7]. Hanna Fakhuri dan Kholil al-Jarri sebagai peneliti yang percaya pada pandangan terakhir menambahkan bahwa afiliasi Ikhwan al-Sofa ke Isma’iliyyah bukan sekedar bersifat doktrinal, melainkan juga politis. Dari sini mereka memandang bahwa idealise tatanan politik yang dibicarakan Ikhwan al-Sofa sebenarnya bermakna oposisi mereka terhadap Dinasti ‘Abbasiyyah dan dukukangan kepada Dinasti Fathimiyyah.[8]

Walau bagaimana pun kebenarannya, jika kita melihat isi Rosa’il, yang cukup jelas adalah bahwa Ikhwan al-Safa bukan sekedar kumpulan cendikiawan, melainkan juga gerakan keagamaan, ilmu pengetahuan, dan politik.

Isi Rosa’il Ikhwan al-Sofa

Kitab Rosa’il terdiri dari lima puluh dua risalah yang dibagi ke dalam empat kelompok: pengetahuan matematis (didaktis), fisikal, psiko-intelektual, dan teologis-yuridis, seperti tampak dalam tabel topik-topik Rosa’il berikut.[9]

  1. MATEMATIKA: 1. Aritmatika, 2. Geometri, 3. Astronomi, 4. Musik, 5. Geografi, 6. Rasio angka dan geometri, 7. Seni teoritis, 8. Seni praktis, 9. Akhlaq dan sebab perbedaannya, 10. Isagoge, 11. De categoriae, 12. Peri hermeneias, 13. Analytica priora, 14. Analytica posteriora.
  2. FISIKA: 15. Substansi, gerak, ruang, waktu, dan relasi-relasinya, 16. De caelo et mundo, 17. De generatione et corruption, 18.Meteorologi, 19. Mineralogi, 20. Esensi dunia fisis, 21. Botani, 22. Zoologi, 23. Anatomi, 24.  Subjek-objek indera, 25. Embriologi, 26. Manusia sebagai mikro kosmos, 27. Jiwa partikular dalam raga manusia, 28. Potensi manusia, 29. Hikmah hidup dan mati, 30. Kenikmatan dan kepahitan, 31. Sebab perbedaan bahasa.
  3. PSIKO-INTELEKTUAL: 32. Prinsip-prinsip mental menurut mazhab Pythagoras, 33. Prinsip-prinsip mental menurut Ikhwan al-Sofa, 34. Alam sebagai makro kosmos, 35. Subjek-objek mental, 36. Adwar wa akwar, 37. Hakikat cinta, 38. Kebangkitan dan hari kiamat, 39. Kuantitas jenis gerak, 40. Sebab dan akibat, 41. Definisi dan deskripsi.
  4. TEOLOGIS-YURIDIS: 42. Tentang opini dan agama-agama, 43. Hakikat jalan menuju Tuhan dan metode menggapainya, 44. ‘Aqidah Ikhwan al-Sofa dan mazhab Ilahi, 45. Ikatan Ikhwan al-Sofa, 46. Hakikat dan manifestasi Iman, 47. Hakikat hukum Ilahi dan kenabian, 48. Metode dakwah ke jalan Allah, 49. Kondisi entitas spiritual, 50. Kuantitas dan kualitas politik, 51. Pengaturan dunia, 52. Sihir.

Dari semua risalah tersebut, risalah terakhir (ke lima puluh dua) diragukan otentisitasnya oleh sebagian sarjana seperti A. Bausani[10] dan Henry Corbin[11]. Mereka memandang bahwa Risalah tentang sihir ditambahkan oleh generasi kemudian setelah kompilasi aslinya. Risalah ke lima puluh dua yang sebenarnya—menurut mereka, adalah buku yang berjudul al-Risalah al-Jami’ah[12].

Terlepas dari otentisitas risalah ke lima puluh dua, secara umum—seperti kata Majid Fakhry, isi Rosa’il mencerminkan campuran ide-ide fisis-matematis dari mazhab Neo-Pythagorasisme dan Neo-Platonisme.[13] Ide-ide tersebut membentuk suatu basis dari bangunan metafisika campuran yang kompleks tapi dijelaskan dengan bahasa yang lebih popular daripada yang biasa digunakan oleh para filsuf.[14] Mari kita lihat sedikit lebih dekat beberapa fragmennya!

a.Tentang Angka dan Eksisten (Maujudat)

Ikhwan al-Sofa memulai pasal pertama di risalah pertamanya dengan membagi filsafat ke dalam empat jenis kajian: pertama, matematika; kedua, logika; ketiga, fisika; dan keempat, teologi. Kemudian matematika dibagi lagi menjadi empat jenis: aritmatika, geometri, astronomi, dan musik.[15] Dan tentang Aritmatika, mereka berkata, “ Artimatika adalah ilmu tentang spesifikasi angka dan kesesuaiannya dengan makna-makna eksisten (maujudat), sebagaimana disebutkan oleh Pythagoras dan Nicomachus.”[16]

Pembahasan Aritmatika diawali dengan masalah “hakikat satu”. “Satu” menurut Ikhwan al-Sofa memiliki makna hakiki (real) dan majazi (figurative). Secara hakiki, “satu” adalah “sesuatu yang tidak bisa dibagi sama sekali”. Sedangkan secara majazi, “satu” adalah “segala sesuatu yang disebut satu”.[17]

Kemudian mereka menjelaskan bahwa angka satu merupakan prinsip dari semua bilangan. Dari angka satu muncul bilangan-bilangan lainnya, baik bulat ataupun pecahan. Bilangan bulat muncul karena pertambahan progresif angka satu dan bilangan pecahan muncul karena pembagian angka satu. Ketika angka satu ditambahkan kepada dirinya sendiri maka muncul angka dua, jika ditambahkan ke angka dua maka muncul angka tiga,  jika ditambahkan ke angka tiga maka muncul angka empat, dan demikian seterusnya berbagai bilangan bulat muncul. Kemudian bilangan pecahan muncul dengan menunjukan angka satu dari bilangan-bilangan bulat tadi. Menunjukan satu dari angka dua memunculkan setengah, satu dari tiga memunculkan sepertiga, satu dari empat memunculkan seperempat, dan seterusnya.[18]

Sekali lagi, sebagaimana Pythagoras, Ikhwan al-Sofa meyakini bahwa angka bisa menjelaskan hakikat maujudat. Obsesi mereka terhadap angka dan karakternya juga sebenarnya untuk menunjukan bahwa angka benar-benar prototipe dari maujudat. Mereka berkata bahwa “siapa pun yang memahami angka, hukumnya, realitasnya, jenisnya, spesiesnya, dan karakternya, maka ia akan mampu memahami kuantitas dari keberagaman maujudat, spesiesnya, hikmahnya, dan alasan keakuratan takarannya.”[19]

Salah satu bagian menarik yang menjelaskan keyakinan Ikhwan al-Sofa terhadap korespondensi angka dengan maujudat adalah penjelasan mereka tentang Tuhan dan maujudat lainnya selain Dia. Dalam hal ini, menurut mereka, konsep tentang angka satu dan kemunculan bilangan selain satu menjelaskan hakikat “penciptaan”.  Seperti angka satu, Tuhan adalah tunggal dan primer. Dari “cahaya ketunggalan-Nya” munculah suatu simple substance yang disebut dengan akal aktif (العقل الفعال), seperti munculnya angka dua dari angka satu. Kemudian kemunculan jiwa universal (النفس الكلية) dan materi pertama (الهيولى الأولى) analog dengan kemunculan angka tiga dan empat.[20]

b.Hakikat Jalan menuju Tuhan

Dalam risalah ke empat puluh tiga, Ikhwan al-Sofa membahas topik “Hakikat Jalan menuju Tuhan” (ماهية الطريق إلى الله). Risalah ini dibahas dalam tujuh halaman dan hanya  memiliki satu pasal turunan.[21]

Dalam risalah tersebut dinyatakan bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, mengutus para Nabi dan Rosul sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, mengutus mereka disertai kitab untuk memberi petunjuk ke negeri keselamatan dan kedamaian (dar l-salam), ke jalan yang lurus, ke kesempurnaan wujud di negeri yang abadi. Tujuan tersebut tidak bisa dicapai kecuali dengan dua hal: jiwa yang suci dan metode (thoriqoh) yang lurus. Jiwa adalah substansi manusia. Kata “manusia” merupakan tanda untuk menunjukan jiwa dan raga sebagai petandanya. Namun raga bersifat sementara, berubah-ubah, dan akan musnah. Jiwa lah yang abadi. Dalam menangkap bentuk maujudat baik yang inderawi ataupun akli. Seperti cermin, ia perlu rata dan bersih untuk menangkap bayangan sesuai dengan kenyataannya.[22] Mereka juga mengatakan bahwa masalah zat dan sifat Tuhan hanya boleh dibicarakan oleh orang yang telah mensucikan jiwanya, memperoleh ilham, dan memahami tafsir para nabi dan wali.[23]

Pembicaraan mereka tentang penyucian jiwa untuk menggapai kesempurnaan wujud dan pengetahuan yang sejati cukup jelas menunjukan penekanan mereka terhadap aspek esoteris pada pengalaman keagamaan. Hal ini in line dengan ajaran sufi/’irfani dan Isma’iliyah Bathiniyah.

Pengaruh Rosa’il

Dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, Carmela Baffioni mengatakan bahwa pengaruh Rosa’il terhadap literaur-literatur Isma’iliyyah di generasi sesuadahnya diakui secara luas oleh para peneliti. Isi Rosa’il telah ditransmisikan dan dikembangkan oleh para pemikir setelahnya.[24] Isma’ilisme jelas memiliki pengaruh besar dalam pemikiran dan peradaban Islam. Mereka pernah berhasil mendirikan kekuasaan di Mesir, Maroko, dan Syam lewat dinasti Fathimiyyah (909-1171 M).

Di sisi lain, pengaruh besar tersebut mendapat respon keras dari musuh-musuhnya. Hal ini berpuncak ketika Kholifah al-Mustanjid memerintahkan untuk membakar Rosa’il (beserta karya-karya Ibn Sina) pada tahun 555 H/1160 M.[25] Kejadian ini patut disesalkan. Karena—kalaupun kita mencoba ada di pihak al-Mustanjid, kebijakan seperti itu sebenarnya tidak akan menyelesaikan persoalan. Tapi tentunya sikap zalim penguasa seperti itu jelas tidak bisa didukung oleh orang benar-benar yang ingin menegakan keadilan. Tidak sepakat dengan suatu ide tidak bisa dijadikan dasar untuk bersikap zalim terhadap para pendukung ide tersebut ataupun rekamannya yang tertoreh di dalam buku. Namun terlepas dari apapun yang telah diperbuat musuh-musuh Ikhwan al-Shofa’, kenyataan menunjukan bahwa Rosa’iltetap hidup hingga sekarang.


[1] Sekalipun Rosail Ikhwan al-Sofa merupakan karya yang sangat penting dalam sejarah filsafat Islam, namun entah kenapa sebagian penulis tentang sejarah Filsafat Islam tidak mengulasnya dalam karya mereka. Di antara mereka yang kami dapati adalah Kamil Hammud, Jamil Sholiba, dan Muhammad Ali Khalidi. Lihat: Kamil Hammud, Dirosat fi Tarikh al-Falsafah al-‘Arobiyyah, (Beirut: Dar al-Fikr al-Lubnani, 1990); Jamil Sholiba, Tarikh al-Falsafah al-‘Arobiyyah, (Beirut: al-Syarikah al-‘Alamiyyah li al-Kitab S.M.L, 1989); Muhammad Ali Khalidi (ed.), Medieval Islamic Philisophical Writings, (New York: Cambridge University Press, 2005).

[2] Carmela Baffioni menyebutkan ada beberapa hipotesa tentang waktu penulisan dan kompilasi Rosa’il. Ada yang menyebutkan sekitar tahun 1047-1051 M, 961-980 M, 961-909 M, dan 840-980 M. Lihat: Carmela Baffioni, Ikhwan al-Safa, dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, (ed.) Edward N. Zalta, edisi musim gugur, 2008. Diunduh dari http://plato.stanford.edu/entries/ikhwan-al-safa/ , pada 1/4/2012.

[3] Sebagian peneliti mengaitkan nama ini dengan nama yang sama yang ada di buku Kalilah wa Dimnah karya Ibn Muqoffa’. Lihat: M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, vol.I, (Pakistan Philosophical Congress, 1963), h. 289; Hanna Fakhuri dan Kholil al-Jurri, Tarikh al-Falsafah al-‘Arobiyyah, vol. I, (Beirut: Dar al-Jil, 1993), hlm. 227.

[4] Lihat: M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, vol.I,hlm. 289-290; Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, (New York: Columbia University Press, 1983), hlm. 163-166; Hanna Fakhuri dan Kholil al-Jurri, Tarikh al-Falsafah al-‘Arobiyyah, vol. I, hlm. 225-235.

[5] M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, vol.I, h. 289.

[6] Abu Hayyan al-Tauhidi, al-Imta’ wa l-Mu’anasah, vol. II, (Kairo: Mathba’ah Lajnah Ta’lif wa Tarjamah wa Nasyr, 1942), hlm. 4-5.

[7] Lihat: Carmela Baffioni, Ikhwan al-Safa; Hanna Fakhuri dan Kholil al-Jurri, Tarikh al-Falsafah al-‘Arobiyyah, vol. I, hlm. 225-227.

[8] Ibid., hlm. 228-231.

[9] Tabel tersebut penulis susun berdasarkan kitab Rosa’il yang diterbutkan atas tanggung jawab Nur al-Din bin Jiwa Khan tahun 1302 H. Sebagia istilah terjemahan penulis ambil dari Majid Fakhry. Lihat: Ikhwan al-Safa, Rosa’il, 4 vols, (Bombay: Mathba’ah Nukhbat al-Akhbar, 1306 H.); Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. 166-167.

[10] Lihat: Carmela Baffioni, Ikhwan al-Safa.

[11] Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trj.  Liadain Sherrard, hlm. 134.

[12] Ibid. Dalam Rosa’il yang diterbitkan oleh Mathba’ah Nukhbat al-Akhbar, Bombay,keberadaan al-Risalah al-Jami’ah diceritakan pada bagianakhir Pengantar (Fahrosat). Di situ disebutkan bahwa lima puluh dua risalah yang ada di Rosa’il sebenarnya merupakan pengantar menuju “puncak” (nihayat al-murod). Dan puncak tersebut adalah al-Risalah al-Jami’ah. Lihat: Ikhwan al-Sofa, Rosa’il, vol. I, hlm. 17-20.

[13] Dalam Rosa’il bagian ke empat Ikhwan al-Sofa menyebutkan bahwa sumber pengetahuan mereka ada empat: 1. Buku-buku filsafat tentang matematika dan fisika, 2. Kitab suci para rosul, 3. Buku-buku astronomi, dan 4. Buku Ilahi yang hanya disentuh oleh orang-rang suci. Hanna Fakhuri dan Kholil al-Jurri menilai bahwa yang dimaksud dengan sumber ke 3 dan ke 4 adalah buku-buku daras aliran Bathiniyah. Lihat: Hanna Fakhuri dan Kholil al-Jurri, Tarikh al-Falsafah al-‘Arobiyyah, vol. I, hlm. 237-238.

[14] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. 166.

[15] Rosa’il, vol. I, hlm. 22-23.

[16] Ibid., hlm. 23.

[17] Ibid.

[18] Lihat: Ibid., hlm. 22-23.

[19] Dikutip dari Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. 170.

[20] Lihat: Rosa’il, vol.I, hlm. 26.

[21] Lihat: Ibid., vol. IV, hlm 98-104.

[22] Ibid., vol. IV, hlm. 98.

[23] Ibid. hlm. 100.

[24] Carmela Baffioni, Ikhwan al-Safa.

[25] Lihat: Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, hlm. 136.

Posted on July 25, 2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: